Autisme adalah gangguan perkembangan yang sangat
kompleks pada anak, yang gejalanya sudah timbul sebelum anak itu mencapai usia
tiga tahun.
Penyebab autisme adalah gangguan
neurobiologis yang mempengaruhi fungsi otak sedemikian rupa sehingga anak tidak
mampu berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia luar secara efektif.
Gejala yang sangat menonjol adalah sikap anak yang cenderung tidak
mempedulikan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya, seolah menolak
berkomunikasi dan berinteraksi, serta seakan hidup dalam dunianya sendiri. Anak
autistik juga mengalami kesulitan dalam memahami bahasa dan berkomunikasi
secara verbal.
Disamping itu seringkali (prilaku stimulasi diri) seperti berputar-putar, mengepak-ngepakan tangan seperti sayap, berjalan berjinjit dan lain sebagainya.
Disamping itu seringkali (prilaku stimulasi diri) seperti berputar-putar, mengepak-ngepakan tangan seperti sayap, berjalan berjinjit dan lain sebagainya.
Gejala autisme sangat bervariasi. Sebagian anak berperilaku hiperaktif dan
agresif atau menyakiti diri, tapi ada pula yang pasif. Mereka cenderung sangat
sulit mengendalikan emosinya dan sering tempertantrum (menangis dan mengamuk).
Kadang-kadang mereka menangis, tertawa atau marah-marah tanpa sebab yang jelas.
Selain berbeda dalam jenis gejalanya, intensitas gejala autisme juga
berbeda-beda, dari sangat ringan sampai sangat berat.
Oleh karena banyaknya perbedaan-perbedaan tersebut di antara masing-masing
individu, maka saat ini gangguan perkembangan ini lebih sering dikenal sebagai
Autistic Spectrum Disorder (ASD) atau Gangguan Spektrum Autistik (GSA).
Autisme dapat terjadi pada siapa saja,
tanpa membedakan warna kulit, status sosial ekonomi maupun pendidikan
seseorang. Tidak semua individu ASD/GSA memiliki IQ yang rendah. Sebagian dari mereka
dapat mencapai pendidikan di perguruan tinggi. Bahkan ada pula yang memiliki
kemampuan luar biasa di bidang tertentu (musik, matematika, menggambar).
Prevalensi autisme menigkat dengan sangat mengkhawatirkan dari tahun ke
tahun. Menurut Autism Research Institute di San Diego, jumlah individu autistik
pada tahun 1987 diperkirakan 1:5000 anak. Jumlah ini meningkat dengan sangat
pesat dan pada tahun 2005 sudah menjadi 1:160 anak. Di Indonesia belum ada data
yang akurat oleh karena belum ada pusat registrasi untuk autisme. Namun
diperkirakan angka di Indonesia pun mendekati angka di atas. Autisme lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita, dengan perbandingan 4:1
Perilaku Tertentu pada Bayi Bisa Merupakan Ciri Awal dari Autisme
Cara mengatur makanan secara umum
Perilaku Tertentu pada Bayi Bisa Merupakan Ciri Awal dari Autisme
Para
peneliti di Canada dan Amerika menemukan 16 ciri2 awal perilaku bayi yang
merupakan prediksi akurat untuk timbulnya autisme dikemudian hari.
Para peneliti di Canada dapat menunjukkan bahwa perilaku tertentu pada bayi bisa meramalkan dengan cukup akurat bahwa akan berkembang menjadi gejala autisme.
Suatu penelitian yang masih sedang berjalan pada 200 bayi Canada adalah penelitian terbesar yang pernah dilakukan. Bayi2 tersebut mempunyai kakak yang terdiagnosa dengan ASD (Autism Spectrum Disorder). Mereka dipantau terus selama lebih dari 24 bulan. Penemuan awal ini telah dipublikasikan bulan April dalam International Journal of Developmental Neuroscience.
Penelitian menunjukkan bahwa keluarga yang mempunyai seorang anak autistik mempunyai kemungkinan mempunyai anak autistik lagi sekitar 5-10 persen.
Penelitian Canada dimulai sebagai kerja sama antara McMaster University (Offord Centre for Child Studies in Hamilton), The Hospital for Sick Children di Toronto, dan
IWK Health Centre in Halifax. Penelitian ini telah menarik perhatian nasional.Semula dibiayai oleh The Hospital for Sick Children Foundation, sekarang dibiayai oleh The Canadian Institute of Mental Health Research, penelitian ini berkembang dan mengikut sertakan 14 kota diseluruh Canada dan Amerika.
Penelitian ini akhirnya menjadi kerja sama yang besar antara Canada dan Amerika.
Dari seluruh gangguan perkembangan yang ada, Retardasi Mental adalah yang terbanyak, kemudian disusul oleh Gangguan Spektrum Autisme. Meskipun seluruh kumpulan gejalanya luas, bisa sangat ringan maupun sangat berat, namun semuanya menunjukkan gangguan dalam bidang, komunikasi, interaksi sosial dan perilaku.
Gangguan ini demikian kompleksnya dan diagnosanya tergantung dari kemampuan dan pengalaman klinis pemeriksa, oleh karena instrument yang bisa mengukur autisme untuk bayi belum ada.
Saat ini para peneliti Canada membuat instrument tersebut yang disebut : Autism Observation Scale for Infants (AOSI). Instrumen ini mengukur perkembangan bayi mulai 6 bulan, mencari 16 ciri-ciri yang khas yang menimbulkan risiko timbulnya autisme, seperti misalnya :
- tidak mau tersenyum bila diajak senyum
- tidak bereaksi bila namanya dipanggil
- temperamen yang passif pada umur 6 bulan, diikuti dengan iritabilitas yang tinggi
- kecenderungan sangat terpukau dengan benda tertentu
- interaksi sosial yang kurang
- ekspresi muka yang kurang hidup pada saat mendekati umur 12 bulan.
- pada umur satu tahun anak-anak ini lebih jelas menunjukkan gangguan komunikasi dan berbahasa.
- bahasa tubuhnya kurang
- pengertian bahasa reseptif maupun ekspresif rendah.
Apakah ciri-ciri diatas ini merupakan ciri dini dari autisme, atau merupakan perilaku yang menyebabkan berkurangnya kemampuan sosialisasi sehingga timbul gangguan perkembangan seperti autisme ? Bagaimanapun hasil penelitian ini akan membuat kita lebih mengerti kapan autisme pada seorang anak mulai timbul.
Dr Zwaigenbaum mengatakan bahwa kekuatan prediksi dari cirri-ciri ini sangat kuat. Dari anak yang telah dipantau selama 24 bulan, yang kemudian benar-benar terdiagnosa sebagai ASD , menunjukkan sedikitnya 7 dari 16 ciri-ciri tersebut.
Dengan mengenali ciri2 tersebut sedini mungkin, diagnosa bisa ditegakkan sedini mungkin, dan intervensi bisa dimulai lebih dini. Hal ini akan mempengaruhi masa depan anak tersebut.
Jessica Brian, salah seorang yang turut mengambil bagian dalam penelitian tersebut di Hospital for Sick Children sudah mulai mengembangkan teknik2 intervensi dini untuk bayi yang menunjukkan ciri2 tersebut.
John Kelton, dekan dan vice president dari McMaster’s Faculty of Health Science mengatakan : “ Ini merupakan langkah maju yang penting. Kelompok di Offord Centre benar2 melakukan langkah nyata dalam memberikan penanganan yang lebih baik bagi anak2 dan keluarga dimana ada seorang yang menderita gangguan autistik".
The Offord Centre for Child Studies di McMaster University adalah sebuah pusat penelitian mengenai perkembangan anak yang diakui secara internasional.
Para peneliti di Canada dapat menunjukkan bahwa perilaku tertentu pada bayi bisa meramalkan dengan cukup akurat bahwa akan berkembang menjadi gejala autisme.
Suatu penelitian yang masih sedang berjalan pada 200 bayi Canada adalah penelitian terbesar yang pernah dilakukan. Bayi2 tersebut mempunyai kakak yang terdiagnosa dengan ASD (Autism Spectrum Disorder). Mereka dipantau terus selama lebih dari 24 bulan. Penemuan awal ini telah dipublikasikan bulan April dalam International Journal of Developmental Neuroscience.
Penelitian menunjukkan bahwa keluarga yang mempunyai seorang anak autistik mempunyai kemungkinan mempunyai anak autistik lagi sekitar 5-10 persen.
Penelitian Canada dimulai sebagai kerja sama antara McMaster University (Offord Centre for Child Studies in Hamilton), The Hospital for Sick Children di Toronto, dan
IWK Health Centre in Halifax. Penelitian ini telah menarik perhatian nasional.Semula dibiayai oleh The Hospital for Sick Children Foundation, sekarang dibiayai oleh The Canadian Institute of Mental Health Research, penelitian ini berkembang dan mengikut sertakan 14 kota diseluruh Canada dan Amerika.
Penelitian ini akhirnya menjadi kerja sama yang besar antara Canada dan Amerika.
Dari seluruh gangguan perkembangan yang ada, Retardasi Mental adalah yang terbanyak, kemudian disusul oleh Gangguan Spektrum Autisme. Meskipun seluruh kumpulan gejalanya luas, bisa sangat ringan maupun sangat berat, namun semuanya menunjukkan gangguan dalam bidang, komunikasi, interaksi sosial dan perilaku.
Gangguan ini demikian kompleksnya dan diagnosanya tergantung dari kemampuan dan pengalaman klinis pemeriksa, oleh karena instrument yang bisa mengukur autisme untuk bayi belum ada.
Saat ini para peneliti Canada membuat instrument tersebut yang disebut : Autism Observation Scale for Infants (AOSI). Instrumen ini mengukur perkembangan bayi mulai 6 bulan, mencari 16 ciri-ciri yang khas yang menimbulkan risiko timbulnya autisme, seperti misalnya :
- tidak mau tersenyum bila diajak senyum
- tidak bereaksi bila namanya dipanggil
- temperamen yang passif pada umur 6 bulan, diikuti dengan iritabilitas yang tinggi
- kecenderungan sangat terpukau dengan benda tertentu
- interaksi sosial yang kurang
- ekspresi muka yang kurang hidup pada saat mendekati umur 12 bulan.
- pada umur satu tahun anak-anak ini lebih jelas menunjukkan gangguan komunikasi dan berbahasa.
- bahasa tubuhnya kurang
- pengertian bahasa reseptif maupun ekspresif rendah.
Apakah ciri-ciri diatas ini merupakan ciri dini dari autisme, atau merupakan perilaku yang menyebabkan berkurangnya kemampuan sosialisasi sehingga timbul gangguan perkembangan seperti autisme ? Bagaimanapun hasil penelitian ini akan membuat kita lebih mengerti kapan autisme pada seorang anak mulai timbul.
Dr Zwaigenbaum mengatakan bahwa kekuatan prediksi dari cirri-ciri ini sangat kuat. Dari anak yang telah dipantau selama 24 bulan, yang kemudian benar-benar terdiagnosa sebagai ASD , menunjukkan sedikitnya 7 dari 16 ciri-ciri tersebut.
Dengan mengenali ciri2 tersebut sedini mungkin, diagnosa bisa ditegakkan sedini mungkin, dan intervensi bisa dimulai lebih dini. Hal ini akan mempengaruhi masa depan anak tersebut.
Jessica Brian, salah seorang yang turut mengambil bagian dalam penelitian tersebut di Hospital for Sick Children sudah mulai mengembangkan teknik2 intervensi dini untuk bayi yang menunjukkan ciri2 tersebut.
John Kelton, dekan dan vice president dari McMaster’s Faculty of Health Science mengatakan : “ Ini merupakan langkah maju yang penting. Kelompok di Offord Centre benar2 melakukan langkah nyata dalam memberikan penanganan yang lebih baik bagi anak2 dan keluarga dimana ada seorang yang menderita gangguan autistik".
The Offord Centre for Child Studies di McMaster University adalah sebuah pusat penelitian mengenai perkembangan anak yang diakui secara internasional.
TERAPI AUTISME
Terapi Perilaku
Terapi
perilaku, berupaya untuk melakukan perubahan pada anak autistik dalam arti
perilaku yang berlebihan dikurangi dan perilaku yang berkekurangan (belum ada)
ditambahkan.
Terapi perilaku yang dikenal di seluruh dunia adalah Applied Behavioral Analysis yang diciptakan oleh O.Ivar Lovaas PhD dari University of California Los Angeles (UCLA).
Terapi perilaku yang dikenal di seluruh dunia adalah Applied Behavioral Analysis yang diciptakan oleh O.Ivar Lovaas PhD dari University of California Los Angeles (UCLA).
Dalam terapi
perilaku, fokus penanganan terletak pada pemberian reinforcement positif setiap
kali anak berespons benar sesuai instruksi yang diberikan. Tidak ada hukuman
(punishment) dalam terapi ini, akan tetapi bila anak berespons negatif
(salah/tidak tepat) atau tidak berespons sama sekali maka ia tidak mendapatkan
reinforcement positif yang ia sukai tersebut. Perlakuan ini diharapkan
meningkatkan kemungkinan anak untuk berespons positif dan mengurangi
kemungkinan ia berespons negatif (atau tidak berespons) terhadap instruksi yang
diberikan.
Secara lebih
teoritis, prinsip dasar terapi ini dapat dijabarkan sebagai A-B-C;
yakni A (antecedent) yang diikuti dengan B (behavior) dan diikuti dengan C
(consequence). Antecedent (hal yang mendahului terjadinya perilaku) berupa
instruksi yang diberikan oleh seseorang kepada anak autis. Melalui gaya pengajarannya
yang terstruktur, anak autis kemudian memahami Behavior (perilaku) apa yang
diharapkan dilakukan olehnya sesudah instruksi tersebut diberikan, dan perilaku
tersebut diharapkan cenderung terjadi lagi bila anak memperoleh Consequence
(konsekuensi perilaku, atau kadang berupa imbalan) yang menyenangkan.
Tujuan
penanganan ini terutama adalah untuk meningkatkan pemahaman dan kepatuhan anak
terhadap aturan. Terapi ini umumnya mendapatkan hasil yang signifikan bila
dilakukan secara intensif, teratur dan konsisten pada usia dini.
Terapi Wicara
Terapis
Wicara adalah profesi yang bekerja pada prinsip-prinsip dimana timbul kesulitan
berkomunikasi atau ganguan pada berbahasa dan berbicara bagi orang dewasa
maupun anak. Terapis Wicara dapat diminta untuk berkonsultasi dan
konseling; mengevaluasi; memberikan perencanaan maupun penanganan untuk terapi;
dan merujuk sebagai bagian dari tim penanganan kasus.
Ganguan Komunikasi pada Autistic Spectrum Disorders
(ASD):
Bersifat: (1) Verbal; (2) Non-Verbal; (3) Kombinasi.
Bersifat: (1) Verbal; (2) Non-Verbal; (3) Kombinasi.
Area bantuan
dan Terapi yang dapat diberikan oleh Terapis Wicara:
- Untuk Organ Bicara dan sekitarnya (Oral Peripheral Mechanism), yang sifatnya fungsional, makaTerapis Wicara akan mengikut sertakan latihan-latihan Oral Peripheral Mechanism Exercises; maupun Oral-Motor activities sesuai dengan organ bicara yang mengalami kesulitan.
- Untuk Artikulasi atau
Pengucapan:
Artikulasi/ pengucapan menjadi kurang sempurna karena karena adanya gangguan, Latihan untuk pengucapan diikutsertakan Cara dan Tempat Pengucapan (Place and manners of Articulation). Kesulitan pada Artikulasi atau pengucapan, biasanya dapat dibagi menjadi: substitution (penggantian), misalnya: rumah menjadi lumah, l/r; omission (penghilangan), misalnya: sapu menjadi apu; distortion (pengucapan untuk konsonan terdistorsi); indistinct (tidak jelas); dan addition (penambahan). Untuk Articulatory Apraxia, latihan yang dapat diberikan antara lain: Proprioceptive Neuromuscular. - Untuk Bahasa: Aktifitas-aktifitas
yang menyangkut tahapan bahasa dibawah:
1. Phonology (bahasa bunyi);
2. Semantics (kata), termasuk pengembangan kosa kata;
3. Morphology (perubahan pada kata),
4. Syntax (kalimat), termasuk tata bahasa;
5. Discourse (Pemakaian Bahasa dalam konteks yang lebih luas),
6. Metalinguistics (Bagaimana cara bekerja nya suatu Bahasa) dan;
7. Pragmatics (Bahasa dalam konteks sosial). - Suara: Gangguan pada suara adalah Penyimpangandari nada, intensitas, kualitas, atau penyimpangan-penyimpangan lainnya dari atribut-atribut dasar pada suara, yang mengganggu komunikasi, membawa perhatian negatif pada si pembicara, mempengaruhi si pembicara atau pun si pendengar, dan tidak pantas (inappropriate) untuk umur, jenis kelamin, atau mungkin budaya dari individu itu sendiri.
- Pendengaran: Bila keadaan diikut sertakan dengan gangguan pada pendengaran maka bantuan dan Terapi yang dapat diberikan: (1) Alat bantu ataupun lainnya yang bersifat medis akan di rujuk pada dokter yang terkait; (2) Terapi; Penggunaan sensori lainnya untuk membantu komunikasi;
PERAN
KHUSUS dari Terapi wicara adalah mengajarkan suatu cara untuk ber
KOMUNIKASI:
- Berbicara:
Mengajarkan atau memperbaiki kemampuan untuk
dapat berkomunikasi secara verbal yang baik dan fungsional. (Termasuk
bahasa reseptif/ ekspresif – kata benda, kata kerja, kemampuan memulai
pembicaraan, dll).
- Penggunaan Alat Bantu (Augmentative Communication): Gambar atau symbol atau bahasa isyarat sebagai kode bahasa; (1) : penggunaan Alat Bantu sebagai jembatan untuk nantinya berbicara menggunakan suara (sebagai pendamping bagi yang verbal); (2) Alat Bantu itu sendiri sebagai bahasa bagi yang memang NON-Verbal.
Dimana
Terapis Wicara Bekerja:
- Dirumah Sakit: Pada bagian Rehabilitasi, biasanya bekerjasama dengan dokter rehabilitasi bersama tim rehabilitasi lainnya (dokter, psikolog, physioterapis dan Terapis Okupasi).
- Disekolah Biasa: Tidak Umum di Indonesia. Pada bagian Penerimaan siswa baru, biasanya bekerjasama dengan guru, psikolog dan konselor. Menangani permasalah keterlambatan berbahasa dan berbicara pada tahap sekolah, dan memantau dari awal murid-murid dengan kesulitan atau gangguan berbicara tetapi masih dapat ditangani dengan pemberian terapi pada tahap sekolah biasa.
- Disekolah Luar Biasa: Pada bagian Terapi wicara, bekerjasama dengan guru dan professional lainnya pada sekolah tersebut. Biasanya memberikan konsultasi, konseling, evaluasi dan terapi
- Pada Klinik Rehabilitasi: Praktek dibawah pengawasan dokter, biasanya dengan tim rehabilitasi lainnya,
- Praktek Perorangan: Praktek sendiri berdasarkan rujukan, bekerjasama melalui networking. Biasanya memberikan konsultasi, konseling, evaluasi dan terapi.
- Home Visit: Mendatangi rumah pasien untuk pelayanan-pelayanan diatas dikarenakan ketidakmungkinan untuk pasien tersebut berpergian ataupun dengan perjanjian.
Terapi Biomedik
Akhir-akhir
ini terapi biomedik banyak diterapkan pada anak dengan ASD. Hal ini didasarkan
atas penemuan-penemuan para pakar, bahwa pada anak-anak ini terdapat banyak
gangguan metabolisme dalam tubuhnya yang mempengaruhi susunan saraf pusat
sedemikian rupa, sehingga fungsi otak terganggu. Gangguan tersebut bisa
memperberat gejala autisme yang sudah ada, atau bahkan bisa juga bekerja
sebagai pencetus dari timbulnya gejala autisme.
Yang sering
ditemukan adalah adanya multiple food allergy, gangguan pencernaan, peradangan
dinding usus, adanya exomorphin dalam otak (yang terjadi dari casein dan
gluten), gangguan keseimbangan mineral tubuh, dan keracunan logam berat seperti
timbal hitam (Pb), merkuri (Hg), Arsen (As), Cadmium (Cd) dan Antimoni (Sb).
Logam-logam berat diatas semuanya berupa racun otak yang kuat.
Yang
dimaksud dengan terapi biomedik adalah mencari semua gangguan tersebut diatas
dan bila ditemukan, maka harus diperbaiki , dengan demikian diharapkan bahwa
fungsi susunan saraf pusat bisa bekerja dengan lebih baik sehingga
gejala-gejala autisme berkurang atau bahkan menghilang.
Pemeriksaan
yang dilakukan biasanya adalah pemeriksaan laboratorik yang meliputi
pemeriksaan darah, urin, rambut dan feses. Juga pemeriksaan colonoscopy
dilakukan bila ada indikasi.
Terapi
biomedik tidak menggantikan terapi-terapi yang telah ada, seperti terapi
perilaku, wicara, okupasi dan integrasi sensoris. Terapi biomedik melengkapi
terapi yang telah ada dengan memperbaiki “dari dalam”. Dengan demikian
diharapkan bahwa perbaikan akan lebih cepat terjadi.
Terapi Makanan
Terapi Diet pada Gangguan Autisme
Sampai saat
ini belum ada obat atau diet khusus yang dapat memperbaiki struktur otak atau
jaringan syaraf yang kelihatannya mendasari gangguan autisme. Seperti diketahui
gejala yang timbul pada anak dengan gangguan autisme sangat bervariasi, oleh
karena itu terapinya sangat individual tergantung keadaan dan gejala yang
timbul, tidak bisa diseragamkan. Namun akan sulit sekali membuat pedoman diet
yang sifatnya sangat individual. Perlu diperhatikan bahwa anak dengan gangguan
autisme umumnya sangat alergi terhadap beberapa makanan. Pengalaman dan
perhatian orangtua dalam mengatur makanan dan mengamati gejala yang timbul
akibat makanan tertentu sangat bermanfaat dalam terapi selanjutnya. Terapi diet
disesuaikan dengan gejala utama yang timbul pada anak. Berikut beberapa contoh
diet anak autisme.
1. Diet
tanpa gluten dan tanpa kasein
Berbagai
diet sering direkomendasikan untuk anak dengan gangguan autisme. Pada umumnya,
orangtua mulai dengan diet tanpa gluten dan kasein, yang berarti menghindari
makanan dan minuman yang mengandung gluten dan kasein.
Gluten
adalah protein yang secara alami terdapat dalam keluarga “rumput” seperti
gandung/terigu, havermuth/oat, dan barley. Gluten memberi kekuatan dan
kekenyalan pada tepung terigu dan tepung bahan sejenis, sedangkan kasein adalah
protein susu. Pada orang sehat, mengonsumsi gluten dan kasein tidak akan
menyebabkan masalah yang serius/memicu timbulnya gejala. Pada umumnya, diet ini
tidak sulit dilaksanakan karena makanan pokok orang Indonesia adalah nasi yang
tidak mengandung gluten. Beberapa contoh resep masakan yang terdapat pada situs
Autis.info ini diutamakan pada menu diet tanpa gluten dan tanpa kasein. Bila
anak ternyata ada gangguan lain, maka tinggal menyesuaikan resep masakan
tersebut dengan mengganti bahan makanan yang dianjurkan. Perbaikan/penurunan
gejala autisme dengan diet khusus biasanya dapat dilihat dalam waktu antara 1-3
minggu. Apabila setelah beberapa bulan menjalankan diet tersebut tidak ada kemajuan,
berarti diet tersebut tidak cocok dan anak dapat diberi makanan seperti
sebelumnya.
Makanan yang dihindari adalah :
- Makanan yang mengandung gluten, yaitu semua makanan dan minuman yang dibuat dari terigu, havermuth, dan oat misalnya roti, mie, kue-kue, cake, biscuit, kue kering, pizza, macaroni, spageti, tepung bumbu, dan sebagainya.
- Produk-produk lain seperti soda kue, baking soda, kaldu instant, saus tomat dan saus lainnya, serta lada bubuk, mungkin juga menggunakan tepung terigu sebagai bahan campuran. Jadi, perlu hati-hati pemakaiannya. Cermati/baca label pada kemasannya.
- Makanan sumber kasein, yaitu susu dan hasil olahnya misalnya, es krim, keju, mentega, yogurt, dan makanan yang menggunakan campuran susu.
- Daging, ikan, atau ayam yang diawetkan dan diolah seperti sosis, kornet, nugget, hotdog, sarden, daging asap, ikan asap, dan sebagainya. Tempe juga tidak dianjurkan terutama bagi anak yang alergi terhadap jamur karena pembuatan tempe menggunakan fermentasi ragi.
- Buah dan sayur yang diawetkan seperti buah dan sayur dalam kaleng.
Makanan yang dianjurkan adalah :
- Makanan sumber karbohidrat dipilih yang tidak mengandung gluten, misalnya beras, singkong, ubi, talas, jagung, tepung beras, tapioca, ararut, maizena, bihun, soun, dan sebagainya.
- Makanan sumber protein dipilih yang tidak mengandung kasein, misalnya susu kedelai, daging, dan ikan segar (tidak diawetkan), unggas, telur, udang, kerang, cumi, tahu, kacang hijau, kacang merah, kacang tolo, kacang mede, kacang kapri dan kacang-kacangan lainnya.
- Sayuran segar seperti bayam, brokoli, labu siam, labu kuning, kangkung, tomat, wortel, timun, dan sebagainya.
- Buah-buahan segar seperti anggur, apel, papaya, mangga, pisang, jambu, jeruk, semangka, dan sebagainya.
2. Diet anti-yeast/ragi/jamur
Diet ini diberikan kepada anak dengan gangguan infeksi jamur/yeast. Seperti
telah dijelaskan sebelumnya bahwa pertumbuhan jamur erat kaitannya dengan gula,
maka makanan yang diberikan tanpa menggunakan gula, yeast, dan jamur.
Makanan yang perlu dihindari adalah :
- Roti, pastry, biscuit, kue-kue dan makanan sejenis roti, yang menggunakan gula dan yeast.
- Semua jenis keju.
- Daging, ikan atau ayam olahan seperti daging asap, sosis, hotdog, kornet, dan lain-lain.
- Macam-macam saus (saus tomat, saus cabai), bumbu/rempah, mustard, monosodium glutamate, macam-macam kecap, macam-macam acar (timun, bawang, zaitun) atau makanan yang menggunakan cuka, mayonnaise, atau salad dressing.
- Semua jenis jamur segar maupun kering misalnya jamur kuping, jamur merang, dan lain-lain.
- Buah yang dikeringkan misalnya kismis, aprokot, kurma, pisang, prune, dan lain-lain.
- Fruit juice/sari buah yang diawetkan, minuman beralkohol, dan semua minuman yang manis.
- Sisa makanan juga tidak boleh diberikan karena jamur dapat tumbuh dengan cepat pada sisa makanan tersebut, kecuali disimpan dalam lemari es.
Makanan tersebut dianjurkan untuk dihindari 1-2 minggu. Setelah itu, untuk
mencobanya biasanya diberikan satu per satu. Bila tidak menimbulkan gejala,
berarti dapat dikonsumsi.
Makanan yang dianjurkan adalah :
- Makanan sumber karbohidrat: beras, tepung beras, kentang, ubi, singkong, jagung, dan tales. Roti atau biscuit dapat diberikan bila dibuat dari tepaung yang bukan tepung terigu.
- Makanan sumber protein seperti daging, ikan, ayam, udang dan hasil laut lain yang segar.
- Makanan sumber protein nabati seperti kacang-kacangan (almod, mete, kacang kedelai, kacang hijau, kacang polong, dan lainnya). Namun, kacang tanah tidak dianjurkan karena sering berjamur.
- Semua sayuran segar terutama yang rendah karbohidrat seperti brokoli, kol, kembang kol, bit, wortel, timun, labu siam, bayam, terong, sawi, tomat, buncis, kacang panjang, kangkung, tomat, dan lain-lain.
- Buah-buahan segar dalam jumlah terbatas.
3. Diet untuk alergi dan inteloransi makanan
Anak autis umumnya menderita alergi berat. Makanan yang sering menimbulkan
alergi adalah ikan, udang, telur, susu, cokelat, gandum/terigu, dan bias lebih
banyak lagi. Cara mengatur makanan untuk anak alergi dan intoleransi makanan,
pertama-tama perlu diperhatikan sumber penyebabnya. Makanan yang diduga
menyebabkan gejala alergi/intoleransi harus dihindarkan. Misalnya, jika anak
alergi terhadap telur, maka semua makanan yang menggunakan telur harus
dihindarkan. Makanan tersebut tidak harus dipantang seumur hidup. Dengan
bertambahnya umur anak, makanan tersebut dapat diperkenalkan satu per satu,
sedikit demi sedikit.
Cara mengatur makanan secara umum
- Berikan makanan seimbang untuk menjamin agar tubuh memperoleh semua zat gizi yang dibutuhkan untuk keperluan pertumbuhan, perbaikan sel-sel yang rusak dan kegiatan sehari-hari.
- Gula sebaiknya dihindari, khususnya bagi yang hiperaktif dan ada infeksi jamur. Fruktosa dapat digunakan sebagai pengganti gula karena penyerapan fruktosa lebih lambat disbanding gula/sukrosa.
- Minyak untuk memasak sebaiknya menggunakan minyak sayur, minyak jagung, minyak biji bunga matahari, minyak kacang tanah, minyak kedelai, atau minyak olive. Bila perlu menambah konsumsi lemak, makanan dapat digoreng.
- Cukup mengonsumsi serat, khususnya serat yang berasal dari sayuran dan buah-buahan segar. Konsumsi sayur dan buah 3-5 porsi per hari.
- Pilih makanan yang tidak menggunakan food additive (zat penambah rasa, zat pewarna, zat pengawet).
- Bila keseimbangan zat gizi tidak dapat dipenuhi, pertimbangkan pemberian suplemen vitamin dan mineral (vitamin B6, vitmin C, seng, dan magnesium).
- Membaca label makanan untuk mengetahui komposisi makanan secara lengkap dan tanggal kadaluwarsanya.
- Berikan makanan yang cukup bervariasi. Bila makanan monoton, maka anak akan bosan.
- Hindari junk food seperti yang saat ini banyak dijual, ganti dengan buah dan sayuran segar.
Ada Suplemen yang Bisa Kurangi
Gejala Autis
Jakarta, Sebuah suplemen antioksidan
yang banyak beredar di pasaran ternyata dapat mengurangi beberapa gejala
autisme pada anak.
Suplemen yang disebut N-asetilsistein atau NAC ini terbukti dapat menurunkan gejala perilaku lekas marah dan perilaku repetitif, perilaku khas yang dimiliki anak autis.
Para peneliti yang berasal dari Stanford University School of Medicine melaporkan temuannya ini dalam jurnal Biological Psychiatry. Meskipun demikian, tim peneliti memperingatkan temuannya masih perlu dikonfirmasi dengan penelitian yang lebih besar karena hanya menggunakan sampel sebanyak 31 orang anak.
"Selama ini, gejala perilaku lekas marah, perubahan suasana hati dan depresi pada anak-anak autis diobati dengan obat antipsikotik. Sayangnya obat ini dapat memiliki efek samping yang signifikan," kata dr Antonio Y. Harden dari Stanford seperti dilansir Los Angeles Times, Jumat (1/6/2012).
Efek samping yang dimaksud Harden adalah kenaikan berat badan, melakukan gerakan motorik secara spontan dan mengidap sindrom metabolik yang dapat meningkatkan risiko diabetes. Sedangkan NAC diketahui memiliki efek samping lebih ringan seperti sembelit, diare, mual dan menurunnya nafsu makan.
Tim yang dipimpin oleh Dr Antonio Y. Harden dari Stanford memeriksa penggunaan NAC 31 kepada 31 anak penyandang autis berusia 3 - 12 tahun. Separuh dari seluruh anak dalam penelitian diberikan plasebo dan setengahnya diberikan NAC 900 miligram sekali sehari selama 4 minggu.
Dosisnya kemudian ditingkatkan menjadi 2 kali sehari selama 4 minggu dan terakhir adalah 3 kali sehari selama 4 minggu. Pada akhir percobaan, kecenderungan lekas marah yang diamati menggunakan skala lekas marah menurun dari 13 menjadi 7,2.
"Penurunan ini memang tidak sebesar seperti yang dicapai oleh penggunaan obat antipsikotik. Tetapi obat ini bisa berguna karena memiliki efek samping yang lebih sedikit," kata Harden.
Stanford telah mengajukan paten atas penggunaaan NAC untuk mengobati autisme. Diduga, salah seorang peneliti nampaknya memiliki kepentingan bisnis dengan BioAdvantex, produsen NAC yang juga memasok obat dalam penelitian ini.
Suplemen yang disebut N-asetilsistein atau NAC ini terbukti dapat menurunkan gejala perilaku lekas marah dan perilaku repetitif, perilaku khas yang dimiliki anak autis.
Para peneliti yang berasal dari Stanford University School of Medicine melaporkan temuannya ini dalam jurnal Biological Psychiatry. Meskipun demikian, tim peneliti memperingatkan temuannya masih perlu dikonfirmasi dengan penelitian yang lebih besar karena hanya menggunakan sampel sebanyak 31 orang anak.
"Selama ini, gejala perilaku lekas marah, perubahan suasana hati dan depresi pada anak-anak autis diobati dengan obat antipsikotik. Sayangnya obat ini dapat memiliki efek samping yang signifikan," kata dr Antonio Y. Harden dari Stanford seperti dilansir Los Angeles Times, Jumat (1/6/2012).
Efek samping yang dimaksud Harden adalah kenaikan berat badan, melakukan gerakan motorik secara spontan dan mengidap sindrom metabolik yang dapat meningkatkan risiko diabetes. Sedangkan NAC diketahui memiliki efek samping lebih ringan seperti sembelit, diare, mual dan menurunnya nafsu makan.
Tim yang dipimpin oleh Dr Antonio Y. Harden dari Stanford memeriksa penggunaan NAC 31 kepada 31 anak penyandang autis berusia 3 - 12 tahun. Separuh dari seluruh anak dalam penelitian diberikan plasebo dan setengahnya diberikan NAC 900 miligram sekali sehari selama 4 minggu.
Dosisnya kemudian ditingkatkan menjadi 2 kali sehari selama 4 minggu dan terakhir adalah 3 kali sehari selama 4 minggu. Pada akhir percobaan, kecenderungan lekas marah yang diamati menggunakan skala lekas marah menurun dari 13 menjadi 7,2.
"Penurunan ini memang tidak sebesar seperti yang dicapai oleh penggunaan obat antipsikotik. Tetapi obat ini bisa berguna karena memiliki efek samping yang lebih sedikit," kata Harden.
Stanford telah mengajukan paten atas penggunaaan NAC untuk mengobati autisme. Diduga, salah seorang peneliti nampaknya memiliki kepentingan bisnis dengan BioAdvantex, produsen NAC yang juga memasok obat dalam penelitian ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar